“Suka dan tidak suka, namun lebih banyak sukanya. Sayang dan benci, namun lebih banyak sayangnya. Itulah bagaimana kami menggambarkan ikatan manis kami denganmu saudara tercinta. Kami menyayangimu, Iren.”

Kami para junior yang baru saja menerima kaul pertama bulan juli kemarin – Gregorius, Daniel, Patrisius, Kristorius, Oswaldus, dan Agustinus – adalah teman seangkatan dengan almarhum Hironimus Tae. Masih terkenang dalam pikiran saya tahun 2016 lalu ketika pertama kali saya berjumpa dengan Iren – begitulah kami memanggilnya, di biara Skolapios Atambua. Bagi kalian yang membaca beberapa artikel mengenai Iren pasti bercerita tentang pandangan para pastor mengenai pribadinya. Kali ini saya akan membagikan pengalaman saya sebagai teman seangkatannya Iren saat ia masih tinggal bersama kami dalam satu komunitas.

Kalimat pembuka di atas yang saya kutip dari situs ‘wishesmessagges.com’ adalah ringkasan dari pengalaman saya bersama Iren. Dia memiliki karakter yang menjengkelkan dan membingungkan serta selalu menjadi penyebab timbulnya amarah orang lain termasuk saya. Tetapi saat itu hubungan kami sangat dangkal. Setelah tinggal lebih lama bersama Iren saya menjadi lebih mengenalnya. Dibalik karakternya yang sudah saya sebutkan sebelumnya, ternyata ada cinta dan kasih yang murni. Gregorius juga melihat karakter dari Iren yang memiliki nilai sosial yang tinggi. Dia tidak memilih orang untuk dijadikan teman. Pembawaaannya yang periang membuat Iren mudah untuk berteman dengan siapa saja. Kehadirannya di komunitas, di tengah anak-anak, bersama teman-temannya di kampus, singkatnya dengannya siapa saja ia berinteraksi selalu memberikan nuansa ceria tersendiri.

Kesehatannya yang terganggu tidak membuatnya patah semangat untuk tetap menjadi pribadi yang periang. Sebagai teman sekamarnya selama beberapa waktu, saya bisa melihat Iren sedikit berubah akan tetapi ia berusaha agar orang lain tidak mengetahuinya. Terkadang muncul pertanyaan dalam benak saya mengapa semua cobaan ini menimpa saudara saya. Akan tetapi saya terjaga dari tidur ketika melihat fakta bahwa relasi Iren dengan Tuhan semakin kuat. Ada ikatan antara dirinya dan Sang Pencipta yang tidak Iren tunjukkan kepada banyak orang. Ia membiarkan orang-orang tetap melihat Iren yang periang tanpa menunjukkan semakin dewasa dirinya dalam iman.

Berat bagi kita semua untuk melepas kepergian Iren terutama ibunya yang telah berjuang bersama putranya sampai akhir perjalanan hidupnya. Perlu kita ketahui bahwa kematian bukanlah akhir dari semuanya. Tuhan sangat mencintai Iren itulah sebabnya Ia tidak ingin melihat Iren terus menderita. Tuhan ingin memberikan kebahagiaan abadi kepada Iren di Surga. Akan tiba waktunya bagi kita untuk menghadap Raja atas segala raja. Iren benar-benar mempersiapkan dirinya untuk menghadap Yang Maha Kuasa. Saat melihat Iren yang telah diselimuti kain berwarna putih, saya menatapnya beberapa lama dan berkata di dalam hati, “Terima kasih saudara telah hadir dalam hidup saya. Terima kasih karena telah mengajarkan saya untuk terus bersyukur atas segala berkata yang saya terima. Terima kasih telah mengajarkan kami semua untuk mempersiapkan diri kami menghadap Sang Pencipta.” Beristirahatlah dalam damai saudaraku. Jadilah pendoa bagi kami semua. Kami menyayangimu.
Agustinus Isak Sitorus