Awal mula para Skolapios di Indonesia dan Timor Timur

Pada tahun 2003 diselenggarakan Kapitel Jenderal Skolapios di Roma, dimana disetujui usulan untuk memulai di Manila seminari internasional bagi anak-anak muda dari beberapa negara asia (Indonesia, Vietnam, Timor Leste ….). Gagasan awalnya adalah untuk memulai dengan cara demikian proses pendirian di negara-negara tersebut dengan mengawali formasi para calon agar kemudian bersama  mereka memulai kehadiran kita di beberapa negara baru ini.

Demikianlah bagaimana mereka memulai formasi di Manila dengan beberapa anak muda indonesia yang sebelumnya melakukan kontak dengan Skolapios yang melakukan perjalanan dari Filipina ke Indonesia untuk memperkenalkan panggilan skolapio, khususnya di pulau Timor, dimana ada beberapa kenalan biarawan/biarawati yang membantu mereka dalam tugas ini. Beberapa dari antara mereka melanjutkan formasinya kemudian di Madrid.

Pada Kapitel Jenderal 2009 Vice-province Jepang- Filipina meminta kerja sama dengan beberapa provinsi yang lain untuk mempersiapkan  pendirian di negara-negara ini. Provinsi baru skolapios spanyol Betania menerima tantangan untuk mengambil alih pendirian baru di Indonesia dan Timor Leste.

Pada bulan September 2011 diaturlah perjalanan pertama ke Indonesia untuk melihat dengan teliti tempat-tempat yang mungkin untuk memulai di Indonesia. Setelah mengunjungi beberapa tempat disimpulkan bahwa Atambua adalah tempat yang terbaik untuk memulai komunitas pertama kita.

Kita mendapatkan penerimaan yang baik dari uskup (” kebutuhan utama dari keuskupan kita adalah pendidikan, kalian adalah sebuah Ordo pendidik: selamat datang!), dengan teman-teman setempat yang mempermudah kita dalam langkah-langkah awal (Sr. Yasinta, RVM, bpk. Petrus, para misionaris Claretian …) dan dengan keadaan dimana cukup banyak panggilan-panggilan pertama yang muncul dari wilayah ini.

Pada bulan Februari 2013 tiba di Indonesia dua (2) skolapios pertama dengan tujuan untuk membuka komunitas dan misi di Indonesia: Victor Gil (Spanyol) dan Marcelino Leo Lando (Indonesia). Beberapa bulan kemudian ditambah dengan Anthony Ready (India) dan Injonito da Cruz ( Indonesia). Lebih kemudian P. Jose Mario Ramirez , P. Judie Barsanas (keduanya dari Filipina) dan P. Martin Bravo (Colombia).

Pater Jenderal  mengikuti dari dekat  langkah-langkah awal dari misi baru dan termasuk melakukan beberapa kali perjalanan  untuk mengenal tempat, berbicara dengan bapa uskup dan membantu untuk melihat dengan teliti keputusan-keputusan kita. Nasehatnya adalah memulai tanpa proyek yang sudah direncanakan sebelumnya, dan pergi dengan membiarkan kenyataan yang membuat kita mengerti dimana bisa memulai misi kita.

Dalam waktu yang begitu singkat kita mulai memberikan pelajaran bahasa inggris secara gratis pada setiap sore dengan anak-anak dari lingkungan Tini (Atambua) yang datang setiap sore ke rumah kontrakan kita. Setelah pelajaran kita bermain bersama dengan mereka.   Demikianlah ditanam benih yang kemudian dikenal dengan “Learning with Calasanz”  yang dua tahun kemudian terbentuk di komunitas baru kita di Nekafehan.

Beberapa diantara kita memulai juga memberikan pelajaran di beberapa sekolah keuskupan Atambua ( Fon Bosco, Surya, dan St. Yosef). Setelah beberapa bulan, sesudah mengenal lebih baik situasi pendidikan dan berbicara dengan banyak orang (di sekitar tempat tinggal kita) kita memahami bahwa sumbangan awal kita terhadap situasi pendidikan bisa melalui sebuah asrama yang bertujuan untuk menerima anak-anak dari kampung-kampung sekitar yang perlu datang ke kota untuk belajar di SMP dan di SMA. Kita sering menemukan anak-anak ini gagal dalam belajar karena kurangnya perhatian dan tindak lanjut, berada jauh dari keluarga.

Asrama bisa menyediakan sebuah formasi tambahan yang utuh bagi mereka.

Kita memutuskan untuk memulai pembangunan asrama yang akhirnya bisa menerima murid-murid pertama  pada tahun 2017.

Pada saat ini kita bisa menerima sampai 100 siswa SMP dan SMA. Pada saat yang sama Learning With Calasanz  diperkuat dengan bantuan para aspiran skolapios (kelompok pertama memulai formasi mereka pada bulan agustus 2015) dan jumlah anak-anak semakin meningkat. Tidak lagi hanya diajarkan bahasa inggris, tetapi juga bahan-bahan yang lain: seni, pembinaan moral dan rohani, doa …dan aneka permainan.

Pada bulan Juli 2016 dimulai di Yogyakarta komunitas skolapios kedua di Indonesia yang dimaksudkan untuk yang belajar pendidikan di perguruan tinggi dan formasi para pre-novis & junior.

Pada mulanya mereka memulai dengan 18 junior dan pre-novis, dengan dua pastor (Victor & Jose Mario). Saat ini kita mempunyai dua rumah, satu (1) bagi para junior dan yang lain bagi para pre-novis. Yang disebutkan terakhir ini dimulai pada bulan Mei 2020. Pada saat ini ada 40 formandi di Yogyakarta, para pre-novis dan junior.

Pada bulan Januari 2020 P. Daniel Hallado berpindah ke Dili bersama dengan  dua junior untuk mencoba memulai komunitas skolapios pertama di Timor Leste.

Dan petualangan ini berlanjut …